Warga Bogor Diimbau Selektif Pilih Takjil Pasca Keracunan Massal

0
39
Takjil (ilustrasi)

BOGOR, SERUJI.CO.ID – Puskesmas Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, mengimbau masyarakat di wilayah itu selektif memilih menu berbuka puasa, agar peristiwa keracunan massal yang dialami warga Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, tidak terulang.

“Peristiwa keracunan ini jadi pembelajaran masyarakat agar lebih selektif memilih menu berbuka,” kata Kepala Puskesmas Bogor Utara, dr Oki Kurniawan di Bogor, Senin (28/5).

Ia mengajak masyarakat khususnya para korban keracunan untuk tidak memilih menu makanan yang berisiko seperti halnya hidangan tutut atau keong sawah. Apalagi dikonsumsi sehari-hari selama Ramadhan.

Menurutnya, belum diketahui memakan tutut sebagai sesuatu yang dihalalkan atau diharamkan bagi masyarakat muslim, mengingat hewan tersebut hidup di dua alam.

“Apakah dia tutut beracun atau tidak kita juga tidak tau. Katanya sih enak,” katanya.

Oki mengatakan masyarakat harus mengetahui bahwa tidak semua makanan yang enak itu identik dengan baik dikonsumsi.

Khusus untuk warga yang menjadi pasien keracunan, pascapenyembuhan diingatkan untuk selektif memilih makanan.

“Dalam pengolahan makanan perlu memperhatikan sanitasi dan higienitas yang menjadi syarat makanan itu aman dikonsumsi,” katanya.

Baca juga: Korban Keracunan Tutut di Bogor Bertambah

Selama Ramadhan ini, pasien keracunan dapat makan dan minum seperti biasa, hanya saja harus menghindari makanan yang berisiko menganggu kesehatan seperti kopi, makanan asam dan pedas.

“Kalau bisa sebulan ini jangan dulu makan tutut khusus untuk warga Tanah Baru, untuk di luar Tanah Baru silahkan saja,” katanya.

Alasan pelarangan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa. Mengingat saat ini masih ditelusuri penyebab pasti keracunan yang dialami warga, apakah dari sumber tututnya, atau dari cara pengolahan yang tidak memenuhi syarat higienis dan sanitasi, maupun dari sumber air yang digunakan untuk memasak dan membersihkannya.

“Kita juga tidak tau, apakah ada pengaruhnya jika tutut yang tidak laku dijual diolah lagi dengan tutut baru akan memberi efek,” kata Oki.

Seperti yang diberitakan sebelumnya lebih dari 85 warga Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru mengalami gejala mual, muntah dan diare setelah mengkonsumsi hidangan tutut. Warga terpaksa dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapat pengobatan.

Dibutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk memulihkan kondisi kesehatan warga dengan memberikan cairan infus, serta obat-obatan seperti antasida/norit, antimuntah dan antibiotik. (Ant/Su02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU