Home DKI Jakarta

Berbeda dengan Keterangan Polisi, Ibu Korban Ungkap Anaknya Tewas Setelah Terinjak di Acara Bagi Sembako

70
Ilustrasi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Komariyah yang merupakan ibu Rizki Syaputra (10), salah satu anak yang tewas usai acara pembagian sembako di Lapangan Monumen Nasional (Monas) pada Sabtu (29/4) lalu, menegaskan bahwa ia dan anaknya ikut dalam antrian pembagian sembako tersebut.

Komariyah menceritakan pada awak media yang menemuinya di rumahnya di wilayah permukiman padat di kawasan Pademangan Barat, Jakarta Utara, Selasa (1/5) peristiwa yang akhirnya merenggut nyawa anak bungsunya tersebut.

“Saya dapat kupon dari tetangga hari Jumat sore, katanya ‘nih saya kasih kupon untuk menebus sembako’,” tutur Komariyah mengawali kisahnya.

Berbekal kupon tersebut, Komariyah mengajak Rizki untuk menebus sembako ke Monas. Ia berangkat menuju Monas bersama warga lainnya dengan menggunakan bus yang telah disiapkan panitia.

Sesampai di Monas sekitar pukul 10.00 WIB, Komariyah yang baru saja ditinggal mati suaminya tujuh bulan lalu dan mengurus empat anaknya sendiri, harus berjalan kaki menuju lokasi acara pembagian sembako. Ia menuju lokasi sambil menggendong Rizki yang saat itu kondisinya sehat-sehat saja.

Baca juga: Innalillahi, Dua Anak Tewas di Acara Pembagian Sembako di Monas

Karena antrian pembagian sembako telah mengular panjang, Komariyah akhirnya memutuskan untuk mengantri makan yang ia lihat masih sepi saat itu, karena anaknya ingin makan.

Saat mengantri makan tersebut, tiba-tiba datang orang dengan jumlah yang besar ikut berdesakan antri.

“Saya antri makan disitu, tahunya ada gerombolan dari belakang. Akhirnya desak-desakan. Anak saya didorong dari depan dan belakang, terus Rizki terjatuh dan kakinya terinjak, biru,” ungkapnya dengan raut wajah sedih.

70 COMMENTS

  1. Inilah rezim kebalik yang jelas dibikin gak jelas, yang gak jelas dibikin jelas.
    Lebih mirisnya lagi aparat penegak hukum yang seharusnya netral dalam melaksanaka hukum malah ikut mempasilitasi kezholiman.
    “Ingat kekuasaan tak akan selamanya”

  2. Pak polisi Harus netral,mustahil ibu ibu itu bohong,sy lihat banyak kasus yg menimpa masyarakat apa lg menyangkut pemerintahan Netralitas polisi sebagi penegak hukum d pertanyakan????Kasus Novel tdk jelas sampai sekarang,kasus para ulama yg d bilang makar pada d tangkap,walau pun sudah d bebas kan,tp kasus penista agama entah kemana???? Netral lah Korop Baju Coklat….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Exit mobile version